laman

Wednesday, December 14, 2011

Aksi Bakar Diri, Pemerintah Jangan Anggap Remeh

JAKARTA (Pos Kota) – Aksi nekat rakyat jangan dianggap remeh. Harus diwaspadai penguasa saat ini. Adanya seorang pria membakar diri di depan Istana Merdeka, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat merupakan simbol dan kenekatan yang ngegirisi (luar biasa).
Hal ini ditegaskan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra. Permadi, Kamis (8/12) petang. “ Bakar diri itu merupakan bentuk protes kepada penguasa.
Apalagi ini masih bulan Suro. Dalam perhitungan Jawa, pertanda akan ada goro-goro, “ kata Permadi.
Mantan politisi PDIP ini menambahkan, aksi itu juga bisa jadi simbol kegelisahan rakyat akibat tekanan ekonomi. “Hanya mereka yang dekat dengan kalangan Istana saja yang senang. Sedangkan rakyat jelata makin sulit. Mereka dihimpit kesulitan ekonomi, ” ujarnya.
Apa yang dikatakan Permadi diamini oleh Mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, Dr. Rizal Ramli. Pakar ekonomi ini sepakat bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus hati-hati dan mawas diri. Sebab, bukan tidak mungkin kekuasannya digoyang people power (kekuatan rakyat) menyusul aksi bakar diri seorang pria itu.
“Aksi bakar diri depan Istana Merdeka bisa menyulut people power seperti yang terjadi di Tunisia. Negara ini memang penuh tragedi, terutama di era pemerintahan SBY,” papar Rizal Ramli saat dihubungi kemarin.
Menurut Rizal, rakyat sudah tidak tahan menangung kesulitan ekonomi hingga menangis darah. Mereka menginginkan perubahan seperti dihembuskan di Afrika Utara dan Timur Tengah. Rakyat yang semakin kritis dan terjepit sudah ogah dibohongi lagi.
Rizal menyamakan aksi pria itu dengan bakar diri pedagang sayuran, Muhammed Bouazizi, 26, Desember tahun lalu di Tunisia. Aksi menyulut gelombang massa dan berhasil menumbangkan penguasa Tunisia, Presiden Zine al-Abidine Ben Ali yang sudah berkuasa 23 tahun. “Itu gerakan rakyat pertama yang menjatuhkan penguasa.”
Aksi bakar diri di Indonesia, katanya, hanya ada di era Presiden SBY. Pemerintahan sebelumnya tidak pernah ada. “Kenapa era SBY terjadi, karena rakyat sudah muak dengan pencitraan kolega SBY.”
Selain di Tunisia, kata Rizal, aksi bakar diri juga menginspirasi orang yang haus perubahan di negera lain. Di Mesir, pria misterius membakar dirinya sendiri pada 17 Januari lampau di depan gedung parlemen. “Aksi itu menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak.”
Rizal sendiri mengaku tidak tahu motif pria yang membakar diri di depan Istana tersebut. “Memang masih gelap motifnya termasuk identitasnya,” ucap Rizal. Tapi, katanya, pemilihan lokasi di depan simbol negara adalah sinyal politis. Dan ia sadar betul dengan pemilihan lokasi sebagai bukti ada persiapan.
MASIH KRITIS
Secara umum, kasus bunuh diri di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, tahun 2005 ada 50 ribu penduduk Indonesia yang bunuh diri. Di Jakarta, berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, tahun 2009 kejadian bunuh diri di Jakarta mencapai 165 kasus. Dan pada 2010 angka bunuh diri meningkat jadi 176 kasus.
Sebagaimana diberitakan, seorang pria yang tidak dikenal membakar diri menyiram bensin ke tubuhnya di depan Istana Merdeka kemarin sore. Pria dengan tinggi 170 Cm dan berat 80 Kg itu hingga kini masih kritis karena lukanya mencapai 98 persen. Korban dalam perawatan di ICU Unit Luka bakar RSCM. “Lukanya sangat parah sehingga pernafasannya pun harus dibantu alat,” kata Dirut RSCM Akmal Taher.
Hingga kemarin identitas korban belum diketahui. Penjagaan terhadap pria ini sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengan korban. Di luar RSCM, puluhan mahasiswa masih terus menggalang solidaritas mendukung pria yang terbaring lemah tersebut.
Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S Radjab, korban bukan peserta demo dari perangkat desa. Kasat Reskirm Polres Jakarta Pusat, Kompol Hengki Haryadi, saat dihubungi juga mengatakan hal sama. “Kami berharap ada keluarga yang mengenalinya,” katanya. (aby/deny/edi/b)
sumber

No comments:

Post a Comment